Aktadumanews.com, Atambua– Karakteristik Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL ) menuntut sistem kewaspadaan dini yang ekstra ketat.
Tingginya mobilitas penduduk dan interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi faktor risiko utama masuknya penyakit infeksius baru.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, Elly Ch. Rambitan, S.H., membuka Rapat Koordinasi Teknis One Health dan Tim Koordinasi Daerah (Tikorda) Zoonosis serta Penyakit Infeksius Baru, Senin (19/10/2026) di Aula Hotel Setia, Atambua.
Pertemuan strategis ini digelar sebagai respons mendesak terhadap kompleksitas ancaman kesehatan di wilayah perbatasan, yang kini tidak hanya berkutat pada penyakit menular antar manusia, tetapi juga ancaman zoonosis (penyakit dari hewan) dan tantangan gizi seperti stunting.
Pj. Sekda Belu memaparkan data bagi sektor kesehatan daerah. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, sejak kasus Rabies masuk ke wilayah Belu pada tahun 2024 hingga September 2026, tercatat sebanyak 3.134 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dengan korban jiwa mencapai 4 orang.
“Kita harus memastikan setiap potensi ancaman dikenali sejak awal dan ditindaklanjuti cepat. Tikorda tidak boleh hanya aktif saat ada wabah, tetapi harus bekerja berkelanjutan melalui pemetaan risiko,” Kata Elly.
Menghadapi tantangan ini, Pj Sekretaris Daerah mengeluarkan lima instruksi penting bagi seluruh pemangku kepentingan: yakni Memperkuat Koordinasi One Health: Membangun sinergi nyata antara Dinas Kesehatan, Peternakan, Lingkungan Hidup, dan sektor terkait lainnya; Ke Dua Tingkatkan Surveilans: Memperkuat sistem pelaporan dan pertukaran data antar-fasilitas kesehatan dan petugas lapangan; Ke Tiga Kesiapsiagaan Respons Terpadu: Memastikan mekanisme penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) berjalan cepat dan tepat; Ke Empat: Libatkan Masyarakat, Mengedukasi masyarakat hingga ke tingkat desa mengenai perilaku hidup bersih dan penanganan gigitan hewan dan Ke Lima : Rencana Aksi Terukur: Menghindari kesepakatan di atas kertas, melainkan menghasilkan langkah nyata yang dapat dievaluasi.Selain ancaman zoonosis, Pj Sekda Elly Rambitan juga menyoroti indikator kesehatan masyarakat lainnya.
Hingga Oktober 2026, tercatat 4 kasus kematian ibu dan 35 kasus kematian bayi. Meskipun angka stunting berhasil ditekan, tantangan penurunan angka tersebut tetap menjadi prioritas utama.
“Kesehatan merupakan fondasi pembangunan. Namun, ancaman saat ini semakin kompleks. Penyakit seperti rabies, leptospirosis, antraks, hingga flu burung memerlukan kesiapsiagaan serius. Kita tidak bisa bekerja secara parsial,” tegasnya di hadapan para peserta dan mitra terkait.
Sementara itu, Health Security Specialist Kemitraan Australia-Indonesia untuk Transformasi Kesehatan (KITA SEHAT), Andri Jati Kusuma, menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan Tikorda di Belu.
Ia menekankan pentingnya data riil dari lapangan untuk perencanaan program tahun 2027.
” ingin Tikorda tidak hanya menjadi ruang dialog kebijakan, tetapi lebih luas lagi sebagai pusat berbagi informasi teknis. Kami membutuhkan input dari sektor kesehatan manusia dan hewan untuk menyelaraskan kegiatan dari level kabupaten hingga nasional,” ungkap Andri.


